4 Bulan Agresi Israel, OKI Kembali Serukan Solusi Dua Negara

Berita, Politik73 Dilihat

Jakarta – Agresi Israel atas Palestina masih berlanjut hingga hari ini, terhitung sudah empat bulan sejak serangan pertama pada 7 Oktober 2023. Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) kembali menyerukan upaya mewujudkan solusi dua negara untuk memutus agresi tersebut.

Posisi OKI ini ditegaskan langsung oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) OKI Hissein Brahim Taha dalam pertemuannya dengan Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Arab Saudi Michael Kindsgrab, yang didampingi Konsul Jenderal dan Utusan Khusus Jerman untuk OKI Eltje Aderhold pada Senin (5/2/2024), lapor WAFA.

Dalam pertemuan tersebut, sekjen OKI kembali menegaskan posisinya dan meminta komunitas internasional untuk menghentikan agresi Israel terhadap rakyat Palestina. Pihaknya menekankan perlunya mengupayakan implementasi solusi dua negara.

Kedua belah pihak membahas perkembangan terkini di Gaza dan masalah Palestina dalam pertemuan tersebut.

Inti Solusi Dua Negara
Sejak memanasnya konflik Hamas Palestina dan Israel di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, OKI dan negara Liga Arab menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) gabungan luar biasa di Riyadh, Arab Saudi pada Sabtu (11/11/2023).

KTT tersebut mengadopsi resolusi agresi Israel terhadap rakyat Palestina dan menghasilkan sejumlah keputusan. Salah satunya mewujudkan solusi dua negara.

“Kami menegaskan kembali bahwa perdamaian yang adil, abadi dan komprehensif, yang merupakan pilihan strategis, adalah satu-satunya cara untuk membangun keamanan dan stabilitas bagi semua masyarakat di kawasan dan melindungi mereka dari siklus kekerasan dan perang. Kami tekankan, hal ini tidak akan tercapai tanpa mengakhiri pendudukan Israel dan menyelesaikan permasalahan Palestina berdasarkan solusi dua negara,” bunyi salah satu poin hasil resolusi seperti dilansir kantor berita Saudi, SPA.

Solusi dua negara adalah pembentukan dua negara untuk dua bangsa, yakni negara Israel untuk bangsa Yahudi dan negara Palestina untuk rakyat Palestina. Melansir Encyclopedia Britannica, solusi dua negara ini mulanya diusulkan dalam Perjanjian Oslo yang lahir dari serangkaian peristiwa bersejarah.

Setelah jatuhnya Kekaisaran Ottoman, orang-orang bangsa Yahudi dan Arab sama-sama mengklaim hak untuk menentukan nasibnya sendiri di Palestina. Upaya pertama dilakukan untuk membagi tanah pada 1948 dan melahirkan negara Israel tanpa negara Palestina, dan Tepi Barat serta Jalur Gaza masing-masing berada di bawah Yordania dan Mesir.

Pada 1967, Israel merebut dan menduduki Tepi Barat, Jalur Gaza, dan wilayah Arab lainnya yang kemudian mencuat isu bahwa Israel akan menukar tanah yang telah direbutnya untuk perdamaian dengan negara-negara tetangga Arabnya, termasuk akhirnya Palestina. Konflik ini dikenal dengan Perang Enam Hari.

Serangkaian peristiwa sengketa masih berlanjut dan sejumlah kesepakatan sempat lahir. Hingga pada 1990-an, sebuah perjanjian terobosan yang dinegosiasikan antara para pemimpin Israel dan Palestina di Oslo, Norwegia menetapkan solusi dua negara untuk diterapkan secara bertahap. Namun, perbedaan pendapat antara sebagian warga Israel dan Palestina menyebabkan kegagalan implementasi solusi tersebut.

Diketahui, pasukan pendudukan Israel masih melancarkan serangan di Jalur Gaza. WAFA melaporkan, Senin (5/2/2024) dini hari Israel meluncurkan serangan udara di berbagai wilayah di Jalur Gaza terutama di Kota Deir al-Balah dan Khan Younis pada hari ke-122 agresi Israel.

Sumber lokal menyebut Khan Younis yang terletak di selatan Jalur Gaza menjadi sasaran bombardir Israel terus-menerus, terutama di wilayah barat, termasuk lingkungan Al-Amal, Al-Katiba, Sheikh Nasser, dan Al-Qaizan, selain itu. wilayah selatan menuju ke Kota Rafah.

Warga menyaksikan pasukan pendudukan Israel terus mengepung rumah sakit Al-Amal dan Kamal Nasser di pusat kota Khan Younis saat pesawat tanpa awak Israel menembaki warga di daerah tersebut.

Serangan Israel tersebut telah merenggut puluhan ribu nyawa, termasuk anak-anak tak berdosa. Otoritas Palestina melaporkan, jumlah warga Palestina yang tewas mencapai lebih dari 27.365 orang selama 122 hari agresi Israel di Jalur Gaza. Mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.

Selain itu, 66.630 orang dilaporkan terluka dan lebih dari 8.000 orang masih dinyatakan hilang di bawah reruntuhan dan di jalanan. Korban hilang ini belum dapat dievakuasi karena pasukan Israel menghalau kru ambulans dalam misi penyelamatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *